Aku pasti merindukan kalian…

Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Kadang bila mengingatnya, rasanya tidak usah pernah ada sama sekali… Sebentar lagi aku pulang ke Jakarta dan rasanya baru 5 detik yang lalu aku di sini, di Binjai. Tempat aku dibesarkan yang cukup berkesan dalam bagi hidupku. Beberapa hari sebelumnya, aku menyempatkan diri untuk bertemu dengan teman-teman gereja dan lesku (ada yang dari SMP juga). Banyak hal yang kami ceritakan satu sama lain, yaitu cerita-cerita yang gak mungkin ku dapat dari teman-teman kuliahku. Banyak sih yang kami ceritakan mulai dari sekolah, skripsi, teman-teman kuliah sampe cinta (agak sensi, kayaknya di kamusku gak ada istilah ini. Apaan tuh?). Jangan hiraukan kalimat sebelumnya. Gak lah, pasti ada di kamus kehidupanku istilah itu, karena bagiku orang yang tidak bisa merasakannya adalah orang paling membosankan dan mungkin juga sudah mati rasa. Aku harap siapapun yang membaca tulisan ini, bisa jadi pelajaran hidup untuk lebih cerdas menghadapi orang-orang. Dari perbincanganku yang amat sangat teramat seru, ada beberapa hal yang ku ingat. Teman gerejaku yang ku panggil “Kakak A” sedang berusaha menyusun skripsinya, setelah disetujui dosennya, ia pun ikut ujian Kompre. Kakak ini kuliah di tempat dan jurusan yang seharusnya ku tempati sekarang 😀 Darinya dan teman-temannya aku belajar banyak hal mengenai ketabahan hati merevisi ulang dan berlelah-lelah mencari data primer (yang diolah sendiri) dan lain-lain. Dan ada 2 temannya yang paling baik mau mengantarkannya keliling Kota Medan dari ujung ke ujung (saya bisa bayangkan betapa jauhnya itu), sedangkan orang itu sendiri belum selesai skripsinya. Dimana ketika kita mengerjakan suatu hal yang sulit, kadang Tuhan mengirimkan orang-orang di sekitar kita untuk menyemangati, mensupport, dan mendukung serta membantu kita. Jadi, kita tidak bisa hidup sendirian, karena kita butuh orang-orang itu. Dan puji Tuhan, aku sudah menemukan beberapa orang yang setia dan benar-benar tulus membantuku, misalnya belajar buat ujian dll.
Pelajaran penting lainnya yang ku dapatkan adalah Jangan pernah menunda-nunda! Salah satu Teman kakak A, yang keluarganya …(maaf, broken home), terlalu santai dalam menyusun skripsi, mungkin juga karena orangtuanya masih berkeras hati untuk tidak duduk bersama di hari wisuda nanti. Setiap diajak oleh teman-temannya, dia tidak mau menemui dosennya karena takut disuruh untuk revisi terus-menerus (karena ada beberapa dosen yang sangat perfeksionis). Lalu kakak A pun berkata pada temannya,” Revisi itu wajar, namanya kita sekolah.. ngapain kita sekolah kalo kita gak perlu diperbaiki kesalahannya?” You know what I mean, don’t you? Artinya, jangan pernah takut, hadapi saja..
Ada lagi teman kak A, yang maaf badannya sangat gemuk, dan dia menjadi amat minder, bahkan kalau diajak olahraga pun dia tidak mau karena malu. Belum lagi, mamanya yang gak mau menjahitkan dia baju buat wisuda sebelum dia kurus. Rasa mindernya itu semakin menjadi karena dia sering diejek “gendut” sama teman-teman cowoknya di kelas. Nah, ingat ya siapapun kalian, dimanapun kalian sekarang. Saya gak tau, kalian orang yang sering di-bully atau mem-bully bahkan mengejek serta memandang rendah orang yang kurang dari segi fisik. Bertobatlah kalian euy!!! Saya heran, karena pemikiran orang zaman sekarang tuh pendek banget, bisa-bisanya nilai orang dari segi ganteng atau cantiknya doang. Jangan liat orang dari situ aja. Tapi lihat dia takut akan Tuhan dan sifatnya serta kelakuannya baik gak? Karena setiap ejekan kita atau bully-an kita pada orang yang fisiknya kurang akan membuatnya menjadi minder dan dia sendiripun lambat laun menerima cap yang diberikan orang-orang pada dirinya. Jadi, jangan begitu ya.. (meskipun saya tahu teman-teman saya yang cowok khususnya seringkali menilai perempuan karena cantik aja)
Ternyata kakak ini yang tadi saya ceritakan diejek ini, suka pada seorang cowok di jurusan yang sama selama 4 tahun!!! Dan dia gak bilang apa-apa!!! 4 tahun!!! Kurang lama apalagi itu? Kakak A dan teman-temannya yang lain menyarankan supaya kakak ini mengungkapkan perasaannya waktu wisuda nanti ke abang itu. “Tapi kan, dia udah punya pacar”,ujar kakak itu. Dan teman-temannya bilang,”ungkapkan aja, ngomong aja, habis itu udah. Kau kan gak minta pacaran kan? Cuma biar perasaanmu lega dan tenang sebelum dia jauh.” Seriusan ini bukan FTV ya, ini nyata loh… Saya salut aja, kakak ini bisa selama itu suka tapi gak bilang, kuat banget yah nih hati orang, pikir saya.
Belum lagi teman saya yang cukup akrab, panggil saja miss bubble dan boy. Mereka ini dan saya sudah berteman sangat amat lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Mereka mulai sangat dekat waktu SMA, mulai intensif contact-contactan dan pendekatan ke arah itu (you know, pacaran). Hingga sangat lama, tapi tidak ada progress sama sekali, sehingga miss bubble ini bingung dan menyerah. Dia bilang buat apa menunggu, toh dia juga sampai sekarang gak ada bilang apa-apa tentang itu. Sama nih sama kejadian kakak tadi. Saya pikir, mereka ada benarnya ada salahnya. Kalau menunggu itu negatifnya ternyata PHP, Cuma buang-buang waktu, dan menyakiti perasaan sendiri. Positifnya, kalian sudah sangat kenal dalam waktu lama. Tapi pemikiran saya, sama dengan teman saya, buat apa kita menunggu yang gak pasti buat orang yang gak pasti. Cinta itu bukan channel TV yang bisa diganti kapanpun kau mau ganti. Itu menurutku. Jadi, bilang saja, tidak ada salahnya mencoba sebelum semuanya terlambat dan tidak ada lagi semua yang pernah ada. Dan sebelum diambil orang lain. hehehe

~jarang dibahas~ 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s