Curhat lagi..

Selamat malam Indonesia. saya mau cerita nih..
tadi saya ke gereja ikut dengan ibu saya yang mau kebaktian ibu-ibu, pastinya saya gak join, karena saya masih muda..
ternyata, mereka bukan ibadah di ruangan sekolah minggu, tapi ruang kebaktian. alhasil, saya tidak jadi belajar multimedia lagi untuk persiapan melayani hari minggu nanti. untunglah ada teman sepelayanan dan teman saya bimbingan buat SNMPTN yang menunggu mamanya juga di lantai bawah. kami banyak bercerita mengenai kuliah kami dan IP (bagian RASIP/ RAS dan IP) yang amat sangat keramat untung diperbincangkan antar sesama mahasiswi. dia kuliah di FKM USU. untung dia ada, jadi saya tidak bosan menunggu ibu saya. Begitu kumpulan ibu-ibu itu keluar, hati saya amatlah lega, berarti saya akan pulang. namun, ibu saya malah mengajak saya untuk berkunjung ke orang sakit. yah… pikir saya.
Tapi, entah mengapa, setiap kali saya punya niat untung sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan, saya selalu dikasih latihan dulu. Dulu waktu SMA, aya jadi ketua seksi hiburan juga karena sedikit niat di hati saya dan terucap pelan dari bibir saya, “aku maulah..”, dan seketika itu juga semua teman-teman PA saya di SMA saya mencalonkan saya dan suara terbanyak untuk saya, mulailah saya pelayanan yang cukup berat (ngatur anak SMA yang masih labil, hehehe) mulai dari drama, nyanyi, nari dll. Dan saat ini yang menjadi kerinduan kecil di hati saya, saya ingin sekali melayani orang-orang sakit, mendoakan mereka. Sama seperti yang sekelompok orang lakukan waktu saya sakit di Rumah Sakit dulu, saya mau menangis tersedu-sedu waktu mereka melayani saya, saya bener-bener gak kuat dan saat itu saya sadar kalau yang saya lakukan selama ini gak benar, saya masih suka bolong-bolong baca alkitab dan saya sadari betul kapanpun Tuhan bisa mengambil nyawa dan nafas hidup yang diberikanNya buat kita. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan diri kita sendiri? apa kita sudah benar-benar mempersiapkan diri?
kembali ke cerita awal saya, dimana tibalah kami di rumah ibu yang sakit ( ada miom dalam rahimnya). Saya sangat iba, rumah ibu dan bapak itu sangatlah sederhana terbuat dari kayu.. dia tidak jadi dioperasi karena hemoglobinnya rendah. dia bercerita sambil menangis mengenai keadaan keluarganya yang belum dikaruniai anak satu orangpun.. sementara, dokter tidak berani hanya mengangkat miom tanpa mengangkat rahimnya juga, karena akan memperparah kondisinya. Mereka mau mengadopsi anak, asalkan perempuan, namun yang sering mereka dapatkan adalah anak laki-laki. bahkan, ibu itu berkata pada kami, ” sering saya berdoa sama Tuhan, Tuhan masih banyak orang yang lebih jahat dariku Tuhan!! tapi, kenapa aku harus mengalami ini? Tuhan, aku minta satu aja Tuhan, satu aja…”
ibu-ibu itu pun berdoa dan menghibur ibu yang sakit ini… di situ, saya ingin menangis, tapi tidak mungkin saya begitu, saya akan membuat ibu itu makin sedih kalau saya menangis. sementara saya sibuk memikirkan obsesi dan cita-cita pribadi saya yang mau sekolah lagi di A, B, C, deelel, ternyata orang masih banyak yang kekurangan bahkan menderita di tengah himpitan ancaman penyakit penghilang nyawa dan tiada hadirnya seorang anak..
belum lagi sebelum saya menulis ini, saya buka video klipnya maria shandi, tapi saya lupa lagunya apa. di situ banyak ditunjukkan tentag orang yang mengalami kekurangan fisik. saya jadi ingat dengan tukang sampah yang selalu membawa beratnya sampah di gerobak yang didorangnya dari depan, dia terlihat lelah sekali, sebegitu susahnyakah mencari sesuap nasi? belum lagi bapak, ibu dan anaknya yang selalu berada di depan pagar rumah orang di jalan otista 2 kalau gak salah.. dia gak punya tempat tinggal mungkin ya?
satu hal yang harus kita tahu, ketika kita melihat ada orang yang lebih pintar, lebih kaya, lebih punya segalanya, lebih cantik atau lebih ganteng, lebih terkenal, lebih lebih lebih dan lebih daripada kita, kita sadari mereka masih injak tanah kan? masih makan nasi kan? so, pasti mereka juga punya kekurangan.. dan di saat yang sama juga, kita harus sering-sering melihat banyak orang yang butuh oksigen dan bayar di Rumah Sakit, gak bisa makan, gak bisa sekolah, gak bisa les sana-sini, gak punya tempat tinggal, ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka sayangi karena sakit parah, bahkan hanya hidup sebatang kara. saat itu juga, saya tersadar Tuhan Yesus sudah sangat amat teramat baik bagi hidup saya. Meskipun, saya amat sedih dan tiap malam selama 3 bulan setelah bapak saya meninggal, saya menangis diam-diam, saya mengerti segalaNya karena berkat Tuhan dan bukan kekuatan kami. Tuhan, buat berhasil semua pendidikan kami, memberikan berkat yang banyak buat mama sehingga kami semua bisa les, bisa sekolah, makan, deelel.
So, sudahkah kamu bersyukur buat segala yang Tuhan telah beri hari ini? kalau begitu, ayo, mengucap syukur…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s