Batak, How’s the Culture?

Budaya adalah suatu hal yang melekat baik secara mendalam maupun secara kurang tertanam dalam suatu masyarakat. Tanpa budaya, tidak akan terbentuk pola perilaku tertentu dan tidak aka nada pula tradisi serta batasan-batasan yang mematok dan seolah ‘mengkotak-kotakkan’ individu yang satu dengan yang lainnya.
Menarik untuk memperhatikan setiap perbedaan yang ada dalam suatu masyarakat. Bagaimana pola hidup budaya barat dan bagaimana pula pola hidup dalam budaya timur. Kali ini kita akan lebih menjurus pada satu suku bangsa yang ada di Republik ini yaitu Suku Batak. Suku ini cukup khas dengan banyaknya kebudayaan yang dimiliki olehnya. Serta banyaknya larangan dalam hal pernikahan, serta persamaan dan lain-lain. Dan mala mini tepatnya tanggal 1 Agustus 2013, saya mendapatkan sesuatu yang menarik mengenai batak secara lebih mendalam dari opung boru (Dalam bahasa Indonesia berarti nenek) saya mengenai beberapa hal yang membuat saya sadar akan kesalahan persepsi saya selama ini, bagaimana perjuangan para bapak-bapak Parna (Kumpulan marga yang sama disebut Parna, namun tidak semua parna) mencari pendamping hidup dan bagaimana cara makan suatu keluarga di masa lalu dalam tradisi Batak.
Selama ini saya pikir marga ibu saya Sitorus itu sama dengan manurung, sirait dan butar-butar. Saya heran melihat kakak tingkat saya di kampus, dimana kedua orangtuanya menikah, padahal marga kedua orangtuanya adalah manurung dan sirait. Ternyata keempat marga tersebut yaitu Sitorus, Manurung, Sirait dan Butar-butar hanya berada dalam satu kampung yang sama di Porsea dan mereka tidak sama sehingga mereka boleh menikah dengan yang berlainan marga. Hal yang tidak diperbolehkan adalah jika antara Sitorus, Hutajulu, Hutahean dan Aruan itu menikah, karena mereka sama. Selain itu, fenomena yang sekarang terjadi, misalnya:” Tambunan menikah dengan Tambunan itu boleh saja”, kata Opung boru saya. Asalkan tambunan yang satu berasal dari Kampung A dan Tambunan yang lainnya dari Kampung B. Memang bagi saya, yang jujur tidak bisa sama sekali bahasa batak karena ibu saya juga sudah tidak bisa, tapi dia mengerti, cukup rumit untuk mempelajari ini semua. Tapi bagi saya, penting untuk tetap melestarikan budaya lokal sendiri. Kalau bukan kita yang mempertahankan kekayaan budaya Batak siapa lagi? Saya pun teringat dengan abang saya yang bekerja di Samosir di Kebun Raya. Kami memperbincangkan itu tadi, kai yakin dia akan tetap bisa mempertahankan budaya, bahasa dan logat bataknya yang secara otomatis bisa tetap melestarikan budaya yang unik ini.
Lain halnya dengan parna. Parna ini terdiri atas sekitar 70-80an marga yang sama dan tidak boleh menikah sesame mereka. Tak heran, begitu banyaknya orang yang bermarga parna sulit mencari jodoh. Bahkan di masa lalu, kakek-kakek yang bermarga parna mencari jodohnya perempuan yang bukan parna disaat perempuan itu masih belia. Itulah sebabnya, karena begitu sulitnya mencari pasangan dalam marga yang merupakan anggota Parna. Bila ingin mengerti secara lebih jelas mengenai bagaimana Parna itu, saya sarankan untuk menonton Film Mursala yang sudah pernah tayang di bioskop. Film itu bercerita mengenai bagaimana cinta mengalahkan adat yang harus dipatuhi karena Simbolon dan Saragih itu masih sangat dekat dan sama-sama Parna.
Beralih dari masalah marga dan keunikannya, di masa lalu dalam sebuah keluarga Batak, stiap anggota keluarga makan dari wadah yang sama. Wah itu kalau tidak salah dari batu dan isinya nasi yang banyak sesuai kebutuhan anggota keluarga, dimana sayur dan lain-lain ditaruh di wadah yang sama, jadi satu keluarga makan bersama beramai-ramai di dalam wadah tersebut. Tradisi tersebut diperkirakan masih ada dan dialami oleh ‘Opung Doli’ (sebutan kakek dalam bahasa batak) saya yang lahir tahun 1920an.
Masih banyak hal menarik dan belum ‘terkupas’ mengenai lika-liku budaya Batak, namun saya berharap tulisan ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan kecintaan pada Budaya Batak ini. Sekian. Terimakasih.
By: Priskila Saragih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s